Selasa, 24 November 2009

rumah adat bengkulu

P rovinsi Bengkulu terletak di pantai Barat Pulau Sumatra yang dari sisi
geografisnya sekitar 46,54% atau 920.964 ha lahannya adalah hutan
131
suaka. Kawasan tersebut merupakan sumber wisata alam (ekowisata) yang melimpah
dengan keunikan flora dan faunanya. Letaknya di sebelah Barat pegunungan Bukit
Barisan dan kawasan hutan ini masih dihuni berbagai hewan liar seperti harimau,
gajah, badak dan tempat tumbuhnya bunga terbesar di dunia Rafflesia Arnoldi.
Wilayahnya memanjang dari perbatasan dengan provinsi Sumatra Barat
sampai ke provinsi Lampung berjarak sekitar 567 kilometer persegi dan berbatasan
langsung dengan Samudra Hindia dengan garis pantai sepanjang 525 km.
Penduduknya mencapai 1,6 juta orang dan sebagian besar (96%) adalah
beragama Islam, sisanya beragama kristen, budha dan hindu. Masyarakat aslinya
berasal dari beragam etnik dengan bahasa daerah dan dialek yang berbeda seperti
bahasa Melayu, Rejang, Enggano, Serawai, Lembak, Pasemah, Mulak Bintuhan,
Pekal dan Mukomuko.
Dari sisi budaya, masyarakat Bengkulu terdiri atas dua kelompok besar yaitu
Orang Rejang dan Orang Serawai. Orang Rejang ini terbagi atas dua bagian lagi
yaitu mereka yang tinggal di wilayah dataran tinggi dan mereka yang tinggal di
sekitar pantai yang disebut sebagai Rejang Pesisir. Orang Serawai bermukim di
selatan Bengkulu, mereka masih memiliki hubungan dengan Orang Pasemah yang
bermukim di kawasan pegunungan di dekat Pagaralam dan Gunung Dempo, di
Sumatra Selatan.
Dari sisi sejarah, Bengkulu banyak mempunyai hubungan emosional dengan
bangsa Eropa, khususnya Inggris terlihat dari banyaknya peninggalan sejarah pada
masa penjajahan Inggris. Demikian juga dengan catatan sejarah pada jaman kerajaan
hingga pra kemerdekaan yang dapat dilihat dalam bentuk peninggalan seperti
Begitu masuk ke halaman Anjungan Bengkulu, pengunjung dapat menemukan replika bunga raflesia yang menjadi lambang dan kebanggaan daerah Bengkulu karena tidak ditemukan di tempat lain. Terdapat tiga rumah adat yang ditampilkan di anjungan ini, yakni rumah bangsawan (Rumah Gedang) dan dua jenis rumah rakyat biasa. Ketiganya merupakan rumah panggung yang dibangun di atas tiang setinggi dua meter dari permukaan tanah. Rumah Gedang dibangun lebih besar dari rumah rakyat biasa serta diberi hiasan ukiran di bagian depan dan sisi rumah.

Rumah terbuat dari kayu medang kemuning atau surian balam yang lembut namun tahan lama, lantai terbuat dari papan, atap terbuat dari ijuk enau atau sirap, sedang rumah di Anjungan Bengkulu atapnya menggunakan genteng. Tangga beratap untuk naik-turun terletak di depan rumah dengan anak tangga selalu berjumlah ganjil, berkait dengan nilai adat. Struktur rumah dibagi tiga ruang, yakni serambi (penigo), bagian tengah (penduhuak), dan ruang dalam (pemenyep). Selain itu ada dapur dan gang atau garang.

Rumah bangsawan di anjungan ini digunakan untuk tempat pameran berbagai koleksi, antara lain pelaminan pengantin, sepasang pakaian adat dari seluruh kabupaten/kota yang diletakkan dalam vitrin, alat musik, alat pertanian, foto-foto objek wisata, dan beberapa peragaan upacara adat. Di bagian serambi terdapat penyajian hasil alam berupa lada, batu bara, bongkahan batu emas dan perak, kayu, dan hasil kerajinan rakyat. Di tempat ini, terdapat penjualan cenderamata berbagai hasil kerajinan tangan, antara lain kulit kerang, kayu, dan kulit.

Rumah adat rakyat dibuat seperti aslinya. Di salah satu rumah rakyat bahkan dilengkapi dengan perabotan rumah secara lengkap. Di sini dapat dilihat penataan ruang secara jelas, ada serambi, ruang tengah, dan tempat tidur keluarga. Perlengkapan salat dan meja tempat meletakkan Al Qur’an di salah satu sudut ruangan menunjukkan sebagian besar masyarakat Bengkulu beragama Islam. Rumah rakyat yang satunya lagi dimanfaatkan sebagai ruang kantor pengelolaan.

Rumah adat seperti halnya yang ada di Anjungan Bengkulu diberi hiasan berupa ukiran bermotif tumbuhan atau binatang yang digayakan. Pola ukiran cerbong kewet atau tanjak berkek, misalnya, berbentuk pilin, bermakna rangkaian tidak terputus; sidingin, berbentuk hati, bermakna agar panas hidup dihadapi dengan hati dingin; lengkenai naik, berbentuk tumbuhan merambat pada tangga rumah atau dinding, bermakna dalam kehidupan perlu ada hiasan: hiasan utama adalah anak-anak dan harta kekayaan yang senantiasa naik ke rumah; dan bunga matahari di atas pintu dan jendela, lambang matahari yang menyinari seisi alam bagi kehidupan.

Pada kesempatan tertentu digelar berbagai tari adat, misalnya tombak Kerbau, Putri Gading Cempaka, Sekapur Sirih, dan Tari Kejli yang aslinya dimainkan selama tujuh hari tujuh malam secara terus-menerus. Di samping itu diperagakan pula beberapa upacara adat, seperti upacara kelahiran, perkawinan, kematian, dan upacara tabot.
Anjungan Bengkulu pernah menerima kunjungan Perdana Menteri Papua Nugini dan Presiden Ukraina, disertai dengan penanaman pohon beringin di depan halaman rumah Gedang.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar